Just Keep Going
She

ZWS

Tag


Past
Januari 2009
Februari 2009
Maret 2009
April 2009
Mei 2009
Juni 2009
Juli 2009
Agustus 2009
September 2009
Oktober 2009
November 2009
Januari 2010
Februari 2010
Maret 2010
April 2010
Mei 2010
Juli 2010
Januari 2011
Maret 2011
Juli 2011
Agustus 2011
September 2011
Desember 2011
Januari 2012
April 2012
Mei 2012
Juli 2012
Agustus 2012

Links

Layout: vehemency
Icon: reruntherace

AishiteruKiss
Aoi-Ratih
Ari
Bayonet
Brenda
Dila
Fragaria
Imen
Jjeenniii
Kia
Lona
Nana
Nova
Rhany
Risya
Rollz
Viles
Upsilon
Yuu
Za lupin
Zhenn

Selasa, 08 Mei 2012, 12.35
Ten Phrases

My little game with my friend. Found it on a blog while browsing(sorry I forgot the blog). We decided to make a bet: whoever not doing it till 12 pm will have to treat both of us J.CO. We started it around 7. The rule is we had to make a story from those ten bold phrases. So here you go:

Hanya sebuah kartu nama biasa. Tak ada yang berbeda. Bahkan aku tak akan memungutnya kalau saja disana tidak tertera itu. Bukan karena jabatan sang pemilik sebagai manajer band ternama di negeri ini. Tetapi rangkaian huruf yang berada tepat di bawahnya lah yang menghentikan langkahku di tengah keramaian bandara. Disana, diukir dengan font Calibri, sebuah nama yang kutahu pasti dengan segenap hatiku. Sepuluh tahun, inikah saatnya?

Segera kucari seseorang dengan sosok seperti tiang bendera tadi. Kurasakan adrenalin mengalir deras di tubuhku, hasil dari langkah tergesa dan rasa penasaran yang tinggi. Mengingatkanku pada rasa yang sama saat melakukan terjun payung dulu. Namun, nihil. Dia tak dapat kutemukan.

Panggilan terakhir untuk penerbanganku membuatku menghentikan pencarian. Kutarik napas panjang untuk menenangkan debaran keras jantung ini. Kuletakkan plastik belanjaan yang berisi titipan saudara, seorang kolektor topi, ke dalam bagai sebelum duduk di kursi pesawat. Kulayangkan pandangan ke luar jendela dan seketika terbayang notasi lagu yang terasa familier. Tanpa kusadari, mulutku ikut bersenandung kecil mengikutinya. Kawanan Capung. Aku yakin itu judulnya, pikirku sambil tersenyum. Seseorang di masa lalu pernah mengajarkannya.

Sebuah surat kabar yang terjatuh di atas pangkuanku segera membuyarkan lamunan.

"Ah, es tut mir leid"

Kuangkat kepalaku dan segera kutemukan sepasang mata yang mengingatkanku pada kolam renang di belakang rumah. Biru dan jernih. Aku terpaku. Saat akhirnya tersadar, dia telah duduk di sampingku.

"Ich vermisse sie, El"